<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689</id><updated>2012-02-16T20:40:06.082+07:00</updated><category term='Tentang Dia'/><category term='Imagination'/><category term='OPINI'/><category term='Prosa Gila'/><category term='Tentang Aku'/><category term='Story Vs Journey'/><category term='Berita'/><title type='text'>LoveLifeLoudly</title><subtitle type='html'>It's about both of my literary and real life. It can be a fact or just my imagination. I just wanna show up my shallow agrivation loudly. (ehmm..)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-3432753214152488470</id><published>2010-02-19T22:41:00.002+07:00</published><updated>2010-02-19T23:03:05.837+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Dia'/><title type='text'>That's What Friends Are For..</title><content type='html'>Pernahkah anda merasa kehilangan sosok seorang sahabat meskipun ia berada tidak jauh dari pandangan anda dan ikut merasa kesal padanya ketika orang di sekelilingnya sedang kesal karena perubahan yang terjadi di dalam dirinya? No jokes and no laughing anymore. Saya merasakan hal itu. Ikut terbawa suasana di kala orang lain membicarakannya —meskipun tidak separah yang anda bayangkan. Bahkan, sahabat yang lain sampai mengomentarinya lewat salah satu status update di Facebook. Mungkin dia terlalu penting hingga dunia sekelilingnya merespon kilat perubahan yang ada pada dirinya. &lt;br /&gt;Dia lebih emosional. Kata-kata yang keluar dari mulutnya cenderung reaktif dan mengecilkan harapan lawan bicaranya. Curahan hati dari para sahabat pun melewati daun telinga saya dan terserap sempurna ke dalam otak saya. Satu orang, dua orang, tiga orang, bahkan curhatan paralel. Saya yakin ada yang salah. Dan mengapa mencurahkan perasaannya pada saya? Perfectly weird.&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika muncul tulisan di ponsel saya “message from *B*” dengan fotonya yang sedang menggunakan laptop. Saya ingat foto itu saya ambil saat kami sedang mengerjakan tugas di sekitar gedung kuliah terbesar di Fakultas Pertanian. Dalam pesannya ia ingin meminjam salah satu perangkat elektronik untuk dibawa ke sebuah event mahasiswa terbesar di bulan ini (Januari 2010) dan ingin membicarakan sesuatu. “Ohh GOD!! Why must now…” sambut saya saat membaca sms tersebut —sambil mendengarkan curahan hati dari sahabat lain. Sejujurnya neuron di kepala ini masih tegang dengan berbagai macam hal yang masih dalam perencanaan. Hati ini masih berbalut emosi karena melihat sang sahabat yang emosional. Males.&lt;br /&gt;Setelah berhasil menghimpun semangat dan senyum akhirnya saya kembali ke kost-an dan menunggu kedatangannya. Menurut kesepakatan awal pukul 20.30 WIB.&lt;br /&gt;20.30 WIB saya turun dari kamar dan menunggunya sambil berbincang di kamar seorang teman.&lt;br /&gt;20.45 WIB saya menambah pengetahuan tentang ternak ayam yang bisa mati karena stres melalui cerita teman saya. Ia belum datang.&lt;br /&gt;21.00 WIB saya menambah pengetahuan tentang ternak sapi Frisian Belanda yang disilangkan dengan sapi lokal melalui injeksi sperma dari cerita teman saya. Ia belum datang.&lt;br /&gt;21.15 WIB saya menambah pengetahuan tentang ternak babi yang ternyata memiliki bentuk kromosom yang mirip manusia dan hidupnya yang menjijikan hingga cara mengolahnya melalui cerita teman saya. Ia belum datang.&lt;br /&gt;21.30 WIB teman saya kedatangan tamu. Mereka membicarakan bakso sapi. Saya mulai mengantuk dan terkapar di kasur karena bosan menunggu. Ada pesan darinya, ia harus datang ke tempat lain terlebih dahulu.&lt;br /&gt;21.45 WIB Ia bilang mau berangkat. Saya keluar dari kamar teman dan bertemu dengan Pemimpin Redaksi media yang saya ampu. &lt;br /&gt;21.50 WIB Ia tiba. Pemimpin Redaksi pulang.&lt;br /&gt;Saya memulai dengan mendengarkan dan menemukan suatu titik tengah yang menjadi benang merah antara apa yang dikeluhkan orang-orang tentang dirinya. Saya merasa bersalah karena sempat terbawa suasana hati sahabat yang lain. Dan, akhirnya dengan secuil ilmu penyemangat yang pernah saya dapatkan kami mencari solusi bersama-sama. Bukan untuk orang lain. Tapi paling tidak untuk tidak merusak produktivitas semua pihak. Saya senang dengan keterbukaannya, paling tidak itu yang saya butuhkan untuk bisa menjadi wadah yang melegakan perasaan seorang sahabat. Meskipun saya tidak tahu apa saja yang masih ada di otaknya —yang pasti hal itu merubah keceriaannya. Dan solusi dari saya, “How about refreshing??”. Saya tidak menyampaikannya kala itu, karena ide itu baru saja terpikir beberapa jam yang lalu sebelum menulis rangkaian kalimat ini. Mungkin terlalu jenuh. Anda boleh percaya atau tidak, refreshing dapat meningkatkan produktivitas —mohon tidak dikaitkan dengan hedonis. Satu menit, dua menit, tiga puluh, sembilan puluh menit. 22.30 WIB kami mengakhiri pembicaraan.&lt;br /&gt;Setiap 15 menit saya belajar bersabar. Dalam 80 menit saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang ternak. Dalam 90 menit  saya belajar memahami orang lain. Dalam 170 menit saya belajar banyak hal, termasuk menjadi sahabat yang baik. Kita hanya butuh kesabaran dan kepedulian untuk benar-benar memahami berbagai hal dengan hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-3432753214152488470?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/3432753214152488470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2010/02/thats-what-friends-are-for.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/3432753214152488470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/3432753214152488470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2010/02/thats-what-friends-are-for.html' title='That&apos;s What Friends Are For..'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-7856792002822943109</id><published>2009-11-28T14:47:00.006+07:00</published><updated>2009-11-28T15:33:30.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Story Vs Journey'/><title type='text'>Naik Turun Gunung (1)</title><content type='html'>Pagi itu, 23 Oktober 2009 Saya dan beberapa teman satu kelas minor akan melaksanakan praktikum lapang susulan untuk mata kuliah Interpretasi Alam di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi, Jawa Barat. Dengan mengecer angkutan umum dan colt 'SETAN' -disebut setan karena ugal-ugalan, saya dan teman-teman berangkat menuju Sukabumi. Perjalanan memakan waktu lima jam hingga kami sampai di penginapan HPGW. Sebelum langsung terjun ke lapang kami istirahat dan makan siang.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 14.00 WIB kami memulai perjalanan kami ke tengah hutan. Kami berjumlah 23 orang dan terbagi dalam dua kelompok. Sebagian pergi ke gua dan sebagian lagi ke pemukiman terdekat dari HPGW. Kebetulan saya mendapatkan tugas berkunjung dan mewawancarai penduduk di pemukiman terdekat. Dengan penuh percaya diri saya dan sahabat saya, erin, mendatangi satu per satu rumah warga. Barulah kediaman Pak RT kami singgahi saya sudah speechless karena ternyata sangat sedikit penduduk yang mengerti atau mampu berbahasa Indonesia. Terpaksa, saya harus terbata-bata menggunakan bahasa sunda saya yang pas-pasan. Dari satu rumah ke rumah bahasa sunda saya pun mulai memanas dan semakin lancar. Hingga tiba di rumah salah satu sesepuh di desa tersebut, jangankan berbicara mengerti yang dibicarakan saja tidak. ''Damn!! Sunda kolot!!!'' emosi saya dalam hati. Bukan Hanya saya yang kewalahan, erin juga.&lt;br /&gt;Berada lebih dari sejam di tengah warga membuat saya dan teman-teman mulai merasa nyaman dan dapat menikmati suasana pedesaan yang masih terbilang asri itu. Berbagai macam masalah lingkungan, sejarah kawasan dan obrolan-obrolan ringan menjadi aktivitas kami sambil menyantap bakso tusuk yang dijual seorang pedagang keliling.&lt;br /&gt;Layaknya orang zaman sekarang yang selalu 'narsis' di mana saja, kami pun berfoto ria sepanjang perjalanan. Bahkan kami pun tak enggan berfoto dengan para bocah kampung yang berada di sana. Sehabis menunaikan shalat Ahsar kami kembali ke penginapan. Karena hujan kami jadi kemalaman di tengah hutan. Bersyukur saya masih sempat menyelipkan emergency lamp di tas saya. Suara babi hutan terdengar sepanjang perjalanan kami di tengah hutan.&lt;br /&gt;Tak lama menginjakkan kaki di penginapan, listrik padam. Padahal kami harus menyicil laporan sementara untuk besok. Dengan baterai laptop yang ala kadarnya kami mengerjakan laporan tersebut. Penginapan begitu gelap gulita. Andai saja saya dan teman-teman tidak membawa senter dan emergency lamp sudah dipastikan suasana semakin horor. Kami memutuskan menyudahi pengerjaan laporan saat baterai laptop habis dan segera tidur -segera setelah selesai bergosip.&lt;br /&gt;Kami bangun pagi untuk menunaikan shalat subuh dan segera kembali ke hutan untuk pengamatan satwa. Karena suplai air tidak memadai tidak ada satu orang pun yang mandi selama di HPGW -selain saya (hehehe). Binokuler, kompas, altimeter dan berbagai alat lainnya sudah siap di dalam ransel. Kami kembali pada pos-pos masing-masing dan kebetulan saya berada di bagian COPAL 40 yang berada jauh di atas sana.&lt;br /&gt;butuh banyak energi untuk ke sana.&lt;br /&gt;Setelah selesai mencari data, kami bersantai di warung kopi. Ada pula yang memilih bersih-bersih badan dan packing untuk pulang. Setelah sarapan pagi dan sebelum mengerjakan laporan kembali secara menual -listrik belum menyala, kami bersantai di kamar. Sharing dan bercanda hingga kami tak tahan menahan tawa. Hingga akhirnya kami dibubarkan oleh sebuah gempa bumi 5,2 SR yang terasa cukup kencang pada pukul 10.05WIB. Kami berhamburan keluar tanpa jilbab. Untung saja teman laki-laki kami tidak mempedulikan gempa karena sedang asik main remi. Ajaib memang. Tidak ada sinyal dan tidak ada baterai. Panik. Kami seakan terisolasi dalam bukit yang dikelola IPB ini.&lt;br /&gt;Kami bergegas menyelesaikan laporan dan packing. Semuanya sangat ingin kembali ke kampus Dramaga. Namun, cuaca tidak cukup bersahabat. Hujan masih mengguyur HPGW, belum lagi terdapat data yang masih harus saya cari di atas sana. Saya, Erin, Andrian dan Adam terpaksa pergi terlebih dahulu menggunakan dua buah sepeda motor. Kontur tanah yang begitu terjal dan licin menjadi hambatan bagi kami. Saya sempat dua kali jatuh dari motor. Untung saja tidak ada cacat fisik sedikit pun yang terjadi pada saya.&lt;br /&gt;Teman lainnya menyusul dengan diantar mobil bak pengelola HPGW. Sampai di gerbang luar saya bergabung bersama mereka. Kami saling bertatapan dan tertawa manakala teringat 17 orang mahasiswi 'NGEBAK' di tengah hujan deras dan ditonton pengendara mobil lainnya. Sayang sekali momen sempurna itu tidak dapat didokumentasikan dalam bentuk foto.&lt;br /&gt;Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan colt 'SETAN' (lagi). tapi kali ini pengemudinya lebih dahsyat. Sangat di luar dugaan, macet dimulai dari daerah Cicurug, Sukabumi hingga Baranangsiang, Kota Bogor. Alhasil kami baru tiba di kosan masing-masing sekitar pukul 22.00 WIB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-7856792002822943109?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/7856792002822943109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/11/naik-turun-gunung-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/7856792002822943109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/7856792002822943109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/11/naik-turun-gunung-1.html' title='Naik Turun Gunung (1)'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-5548999905754234151</id><published>2009-09-15T10:45:00.004+07:00</published><updated>2009-09-23T12:44:13.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Goodbye Sanguinity, Welcome Back Dynamic Thinker!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/Sq8OTZiO-jI/AAAAAAAAAFw/nspdAvP_GzI/s1600-h/Copy+of+whats!.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/Sq8OTZiO-jI/AAAAAAAAAFw/nspdAvP_GzI/s200/Copy+of+whats!.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381535806165809714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cukup sudah tawa dan canda yang telah menyita terlalu banyak energi dan produktivitas selama ini. Saya merasa terlalu mengendurkan tali pedati selama saya tiba di kampus hijau ini. Kini saya sadar wilayah ini bukan perhentian setelah memeras peluh dan menghisap karbon monoksida selama tiga tahun di pinggiran Darmawangsa. Akan saya sudahi anggapan betapa mudahnya perjalanan hingga saya tiba di sini.&lt;br /&gt;Dulu saya melaju dengan percepatan yang luar biasa. Untung-rugi namanya. Perjalanan selama tiga tahun yang tidak terbuang sia-sia karena saya berkaca dan sesekali melihat ribuan langkah yang telah saya tempuh hingga berpijak di titik itu. Tidak hanya itu, dulu ‘saya anti-keluh!’ Jika dihitung berapa banyak keluh-kesah yang terlontar dari mulut ini selama dua tahun terakhir, mungkin jumlahnya bisa menutupi hijaunya hutan di kampus ini. Cukup. Tidak ada waktu lagi untuk itu. Saatnya saya kencangkan tali pedati dan melontarkan pecut agar bisa melaju kencang lagi.&lt;br /&gt;Apa salahnya jika kita lelah dan kembali pada apa yang tidak terlihat pada permukaan? Toh, pada akhirnya akan terlihat juga. Tanpa kita sadari mungkin itulah cara terbaik kita untuk menjalani hidup. Hal itu pula yang saya kutip dari film syarat makna “Forrest Gump”, Forrest yang telah berlari selama tiga tahun tanpa arah pun akhirnya kembali ke rumah dengan alasan yang cukup jelas dan rasional “I’m tired…” ujarnya. Tepat, Itu yang saya rasakan.&lt;br /&gt;Canda dan tawa banyak memberikan teman dan hati kepada saya. Tapi rasionalitas ini semakin berkelit dengan realitas. Teman, cinta, jabatan, harta dan popularitas bukanlah final destination, ada yang lebih penting dari itu. Utilitas.&lt;br /&gt;Saya tidak peduli dengan orang yang beranggapan bahwa saya adalah orang yang idealis atau mungkin liberalis —saya lebih suka disebut sang idealis yang liberalis. Saya hanya peduli dengan utilitas. Ada saat di mana kita harus menjalankan sesuatu ‘on the track with all of the rule’ dalam kehidupan. Misalnya, ketika anda melintas di sebuah jalan raya dengan mematuhi segala aturan dan rambunya, maka kemungkinan anda selamat dan tidak ditilang polisi dalam perjalanan signifikan lebih tinggi. Namun, ada saatnya anda berpikir kritis dan menjalankan sesuatu ‘out of the track without accepting the rule’. Misalnya anda tidak mematuhi peraturan sekolah untuk memakai sepatu berwarna hitam dengan alasan perlu biaya tambahan untuk memperolehnya dan yang paling penting ‘sepatu hitam tidak ada hubungannya dengan mindset dan isi otak yang ada di dalam kepala saya’. Ringkasnya, sepatu di kaki, otak di kepala. Tell me how to synchronize it?&lt;br /&gt;Kembali ke utilitas. Utilitas yang saya maksud bukanlah keadaan yang sempurna untuk saya nikmati. Tapi di mana saya bisa membangun idealisme saya untuk menikmati, puas dan memanfaatkan apa yang sudah ada. Kita tidak mungkin dilahirkan pada keadaan 100% sempurna. Saya tidak dilahirkan dari rahim seorang jutawan. Saya bukan anak seorang kiayi. Saya bukan mahasiswi kedokteran atau teknik yang diidam-idamkan ribuan manusia. Saya tidak belajar di perguruan tinggi nomor satu di Indonesia. Saya belum bisa menjadi seorang anak yang bisa membanggakan negara dan kedua orang tua saya. Tapi, saat ini saya telah mencapai utilitas dan dapat mengutarakannya dalam bentuk pernyataan. Saya punya orang tua dan memiliki status sosial jelas pada akta kelahiran. Saya dilahirkan dalam keadaan Islam. Saya mahasiswi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Saya kuliah di IPB. Saya masih bisa mengupayakan apa saja yang bisa saya perbuat untuk membanggakan orang tua dan negeri ini. Cukup bukan?&lt;br /&gt;Utilitas ini yang menjadi modal saya untuk bertindak. Sayangnya, baru saya ingat kembali. Menyedihkan jika saya mengulas kembali ketidakproduktifan yang merupakan buah ‘Sang Sanguinis’ dan melupakan energi dari utilitas yang telah saya sebutkan di atas. Semua memang ada plus dan minusnya, tapi saya merasa lebih nyaman pada posisi saat ini. Posisi yang banyak orang bilang ‘koleris’ atau mepet dengan apa yang disebut ‘Dynamic Thinker’. Ini bukan awal dari kemunduran atau revolusi diri. Saya sendiri tidak tahu harus menamainya apa. Ini hanya upaya diri saya untuk lebih bisa struggle, serta dapat memaknai dan menjalani hidup dengan sebagaimana mestinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-5548999905754234151?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/5548999905754234151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/09/goodbye-sanguinity-welcome-back-dynamic.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/5548999905754234151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/5548999905754234151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/09/goodbye-sanguinity-welcome-back-dynamic.html' title='Goodbye Sanguinity, Welcome Back Dynamic Thinker!'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/Sq8OTZiO-jI/AAAAAAAAAFw/nspdAvP_GzI/s72-c/Copy+of+whats!.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-1615171895989186259</id><published>2009-09-04T12:00:00.008+07:00</published><updated>2009-09-23T12:47:28.749+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SqCiKRdFk6I/AAAAAAAAAFA/e3jKABqd61c/s1600-h/Sorak+Sorai+Kontingen+IPB+Saat+Pembagian+Medali+(Cydra+Al-Fath).JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SqCiKRdFk6I/AAAAAAAAAFA/e3jKABqd61c/s200/Sorak+Sorai+Kontingen+IPB+Saat+Pembagian+Medali+(Cydra+Al-Fath).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377476252448166818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada Senin (20/7) IPB telah mengirim delegasinya ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII) yang diadakan di Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang.  Sebanyak 91 orang yang terbagi dalam 17 tim PKM (3 PKM-P, 2 PKM-M, 9 PKM-K,  1 PKM-T, dan 2 PKM-GT) dan 11 tim lomba pendukung (6 tim Lomba Karya Tulis Ilmu Al-quran (LKTIA), 1 Kelompok Lomba Rancangan Software Kreatif, 1 Lomba Makanan Berbahan Lokal, 1 Lomba Karya Kreatif Barang Bekas (LKKBB), dan 2 Lomba poster iklan layanan masyarakat) berkontribusi dalam perjuangan memperoleh piala bergilir Adikarta Kertawidya yang sempat berdomisili di Kampus IPB selama dua tahun (2004-2006). Pada tahun 2008, piala ini dianugerahkan kepada Unibraw atas prestasinya sebagai peraih medali emas terbanyak.&lt;br /&gt;Dibandingkan empat tahun yang lalu jumlah pengaju proposal PKM meningkat signifikan. Empat tahun yang lalu jumlah pengirim proposal hanya 1.400 kelompok, sedangkan untuk tahun ini meningkat menjadi 12.800 kelompok. Tahun ini, dari 12.800 proposal yang masuk hanya 3.400 kelompok yang didukung oleh dikti. Setelah melalui rangkaian implementasi program, monitoring dan evaluasi terpilihlah 60 kelompok atau 330 orang peserta yang lolos melaju ke PIMNAS XXII tahun 2009 ini. IPB tidak lagi menjadi pengirim finalis PKM terbanyak, tahun ini Universitas Gajah Mada (UGM) menduduki posisi pertama dalam hal jumlah finalis.&lt;br /&gt;Pada hari pertama, sejak kontingen IPB (kecuali tim pameran dan finalis LKTIA yang berangkat lebih dulu) tiba di Malang, pemenang LKTIA telah diumumkan dan tidak satu pun dari enam tim LKTIA yang dikirimkan IPB masuk ke dalam peringkat tiga besar. Pengumuman yang disampaikan berikutnya adalah Guntur Rudi Hartono (ARL 44) yang memenangkan lomba pendukung Karya Kreatif Barang Bekas, disusul tim Sendi Ekasetya (Ilkom 42) yang memperoleh peringkat tiga dalam lomba Kompetisi Rancangan Software Kreatif Untuk Pembelajaran Siswa dengan judul “Sejarah Sebagai Kisah Peristiwa, Ilmu dan Seni” Modul Mata Pelajaran Sejarah Kelas X Semester I. Selain itu, setelah melalui rangkaian acara pada PIMNAS XXII ini ada pun hasil yang diperoleh kontingen IPB  antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Lomba/PKM Tim/Judul PKM Perolehan&lt;br /&gt;PRESENTASI  &lt;br /&gt;PKM-M Sugiarto, dkk/Taman Edukatif (Emas)&lt;br /&gt;PKM-P Ary Try P., dkk/Mikroenkapsulasi Rossela (Perak)&lt;br /&gt;PKM-P Suhendri, dkk/Proses Termal Untuk Tempe (Perunggu)&lt;br /&gt;PKM-K Idham Fitriadi, dkk/Serabi Pelangi (Perak)&lt;br /&gt;PKM-K Rudi Setiawan, dkk/Tsukudani (Perak)&lt;br /&gt;PKM-K Viester Dolles, dkk/Pappy Lisna (Perunggu)&lt;br /&gt;POSTER  &lt;br /&gt;PKM-GT Leonardus AW., dkk/Pewarna Makanan Alami (Emas)&lt;br /&gt;PKM-GT Aminudin, dkk/Potensi Limfitom (Perunggu)&lt;br /&gt;PKM-P Suhendri, dkk/Proses Termal Untuk Tempe (Emas)&lt;br /&gt;PKM-P Ary Try P., dkk/Mikroenkapsulasi Rossela (Perunggu)&lt;br /&gt;PKM-K Puspita Kurnia H., dkk/U-Soup (Emas)&lt;br /&gt;PKM-K Devi Novi A., dkk/ Creative Shop (Perak)&lt;br /&gt;PKM-K Editya P., dkk/Brown Toffu (Perunggu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Unibraw berhasil mempertahankan Piala Adikarta Kertawidya. Unibraw kembali menjadi Juara Umum I di PIMNAS XXII 2009 ini. Pada PIMNAS kali ini IPB menduduki peringkat lima setelah menempati posisi enam pada tahun 2008. Berikut ini adalah urutan juara umum pada PIMNAS XXII dengan perolehan medalinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan Tinggi Presentasi               Poster&lt;br /&gt;           Emas* Perak Perunggu Emas Perak Perunggu&lt;br /&gt;1 UB          3    3   1          2        -      -&lt;br /&gt;2 ITB          2   2   3          2   -   -&lt;br /&gt;3 ITS          2  -   -          -   -      1&lt;br /&gt;4 UNY          2  -   -          -   -   -&lt;br /&gt;5 IPB          1  3   2          3   1   3&lt;br /&gt;6 UGM          1  4   2          2   1   -&lt;br /&gt;7 UNJ          1  1   -          -   -   1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*asumsi bahwa 1 medali emas pada presentasi setara dengan 5 medali emas pada lomba poster&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-1615171895989186259?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/1615171895989186259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/09/pekan-ilmiah-mahasiswa-nasional-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1615171895989186259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1615171895989186259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/09/pekan-ilmiah-mahasiswa-nasional-2009.html' title='Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII)'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SqCiKRdFk6I/AAAAAAAAAFA/e3jKABqd61c/s72-c/Sorak+Sorai+Kontingen+IPB+Saat+Pembagian+Medali+(Cydra+Al-Fath).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-4297456607366713499</id><published>2009-08-03T20:50:00.002+07:00</published><updated>2009-09-23T12:49:13.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Story Vs Journey'/><title type='text'>Orang Gila Masuk Angkot</title><content type='html'>Jumat (31/7), dalam perjalanan menuju Bogor ada hal lucu sekaligus menegangkan yang saya alami. Saya beranjak dari rumah pukul 11.05 WIB. Dengan menggunakan becak saya menuju pangkalan angkot yang ada di depan komplek perumahan saya. Sesampainya di sana saya langsung menaiki angkot D15 jurusan Pamulang-Lb. Bulus. Saya turun dan menaiki angkot jurusan Ciputat-Parung dari perempatan Gaplek, yaitu perempatan yang menjadi perbatasan Jakarta, Tangerang dan Bogor. Perjalanan cukup lancar hingga saya tiba di Pasar Parung.&lt;br /&gt;Kali ini saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot biru jurusan Parung-Bogor. Angkot ini ngetem cukup lama. Hampir setengah jam waktu yang saya habiskan untuk menunggu sampai angkot ini memulai perjalanan. Saya pasrahkan nasib  pada supir angkot —yang saya yakini saat ini usianya belum sampai 16 tahun— selama perjalanan menuju Bogor.&lt;br /&gt;Belum lama supir angkot menancapkan gasnya, tiba-tiba seorang perempuan melambaikan tangannya. Angkot berhenti dan perempuan tersebut naik ke angkot. Namun, tiba-tiba ada seorang pria kumel, berambut gimbal, berkulit hitam, dan agak bau ikut memasuki angkot dari belakangnya. Setiap orang yang ada di dalam angkot spontan menelan ludah. Ya, dia orang gila.&lt;br /&gt;Orang gila itu langsung duduk di pojok belakang angkot yang saya naiki. Saya yang duduk dekat pintu di kursi seberangnya tertunduk dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Terlebih anak SMP yang duduk di sebelah saya, ia langsung memepetkan tubuhnya kepada saya. Ia terlihat begitu takut. Mengingat kejadian yang langka ini saya jadi bingung, saya takut tapi ingin tertawa. Sementara itu, supir angkot berkoar-koar ''KALUAR MANEH!! KALUAR MANEH!!! TONG DIUK SIAAA!!!'' kurang lebih artinya ''KELUAR LO!! KELUAR LO!! JANGAN DUDUK!!!!''. Tapi sang orang gila pun tak menggubrisnya.&lt;br /&gt;Perjalanan pun dimulai dengan membawa orang gila di dalam angkot. Mungkin para penumpang merasakan hal yang sama dengan saya. Takut, tapi ingin tertawa karena baru kali ini satu angkot dengan orang yang jelas-jelas memiliki gangguan jiwa. Apalagi saat supir angkot menyetel lagu Puspa-St.12 dengan hentakkan bass yang cukup kencang dari speaker yang tepat berada di sebelah orang gila itu, ia langsung mengangkat tangannya dan berjoged dengan begitu bersemangat.&lt;br /&gt;Para penumpang sudah kehabisan ide untuk membuat orang gila ini keluar dari angkot. Hingga seorang ibu gendut menaiki angkot bersama seorang anak gadisnya. Si anak duduk tepat di depan orang gila dan sang ibu duduk di sebelah orang gila —tanpa menyadari orang di sebelahnya itu adalah orang gila. Saat goyangan angkot semakin menjadi-jadi si ibu tak sengaja menengokkan kepalanya ke kanan. Dilihatnyalah orang gila yang sedang tertawa dengan segala kekumelannya. Reaksi yang cukup tenang dari sang ibu, namun sangat terlihat dia agak jijik dan panik.&lt;br /&gt;Mungkin karena tak tahan dengan desakan dari tubuh si ibu gendut orang gila pun berteriak ''BANG KIRRIII.. BANG KIRIII!!!''. Para penumpang pun langsung bersahutan ''Bang, dia mau keluar tuh!!!''. Angkot langsung berhenti di depan sebuah warung kopi yang ada di sisi jalan Kemang-Bojong Gede. Orang gila pun turun sambil tertawa-tawa. Begitu pun dengan saya dan penumpang lain yang ikut tertawa dan saling bertatapan saat si orang gila turun dari angkot.&lt;br /&gt;Kami begitu bersyukur, karena seluruh penumpang masih dalam keadaan sehat dan utuh.  Pengalaman yang luar biasa, hari ini kali pertama saya naik angkot bersama orang gila. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan saya dari hal-hal yang tidak bisa diduga. Sungguh momen yang tepat bagi seluruh penumpang angkot tersebut dan saya (khususnya), karena mash diberi kesehatan fisik, akal dan jiwa dalam menjalani kehidupan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-4297456607366713499?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/4297456607366713499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/08/orang-gila-masuk-angkot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4297456607366713499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4297456607366713499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/08/orang-gila-masuk-angkot.html' title='Orang Gila Masuk Angkot'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-4230748069199439611</id><published>2009-08-03T20:01:00.004+07:00</published><updated>2009-09-23T12:48:33.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Story Vs Journey'/><title type='text'>Susah Cari Angkot di Kota Apel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/Snbi2wM4RXI/AAAAAAAAAE4/fjSPAQxyvrY/s1600-h/matos-mlg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/Snbi2wM4RXI/AAAAAAAAAE4/fjSPAQxyvrY/s200/matos-mlg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365725436338259314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua minggu yang lalu, saya meliput Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII). Hampir setiap hari saya dan dua peliput lainnya menghabiskan waktu untuk menyaksikan presentasi PKM yang disajikan mahasiswa IPB dalam kompetisi ilmiah itu. Terkadang saya merasa jenuh saat menunggu giliran finalis IPB yang berpresentasi. Bahkan, saya harus berpindah dari fakultas satu ke fakultas lainnya (yang jaraknya cukup jauh) untuk menyaksikan presentasi yang berbeda. Sudah pasti  menyita waktu apabila saya harus berjalan kaki. Untung saja salah satu peliput difasilitasi motor (pinjaman) untuk memudahkan mobilisasi kami.&lt;br /&gt;Pada hari ketiga saya mendapat sedikit keleluasaan untuk melakukan aktivitas lainnya. Pada hari ini seluruh finalis telah menyelesaikan presentasi PKMnya. Sepulang meliput kegiatan pada PIMNAS XXII ini saya dan salah satu partner kerja saya, sebut saja Cydra, mampir ke Malang Town Square (Matos) yang tidak jauh dari Universitas Brawijaya.  Jaraknya yang berdekatan membuat saya dan Cydra tidak menggunakan kendaraan apa pun. Hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit, kami sudah bisa melihat isi dalam pusat perbelanjaan tersebut.&lt;br /&gt;Setelah hampir dua jam kami berkeliling melihat pameran gadget yang sedang diadakan di atrium mall itu, kami pun pulang ke tempat kami menginap. Setelah cukup lama menunggu angkot di depan Matos, saya baru menyadari belum ada angkot yang melintas. Sampai 10 menit kemudian baru ada angkot yang melintas. Namun, saat saya melambaikan tangan tidak ada satu pun angkot yang mau berhenti. Saya dan Cydra sempat bingung dengan angkot-angkot itu. Hingga seorang supir taksi meneriaki kami ''Nggak boleh dari situ mbak!!!'' sambil menunjuk ke arah di mana kami bisa menaiki angkot. Cukup Jauh. Kami harus berjalan kaki lagi sekitar 200-300 Meter. Sepanjang jalan itu angkot-angkot yang tidak narik berjajar rapi hingga kami dapatkan angkot yang paling ujung. Bersyukur masih ada dua kursi yang masih bisa kami duduki. Angkot yang sudah penuh pun langsung melaju cepat.&lt;br /&gt;Akhirnya kami pun tiba di Jl. Ijen dekat tempat kami meginap dan turun di sana. Kami harus membayar Rp 2.500,- (per orang) untuk perjalanan yang cukup dekat (hanya 5 menit dari tempat kami naik). Sepertinya tarif angkot di kota ini ‘pukul rata’ jauh-dekat  Rp 2.500,- dan untuk saya yang hanya membutuhkan jasanya dalam perjalanan yang singkat itu tarif tersebut rasanya cukup mahal.&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan Kota dan Kabupaten Bogor yang angkotnya berjubel, di Kota Malang angkotlah yang ditunggu-tunggu penumpang bukan angkot yang berebut penumpang. Selain karena penduduk Kota Malang yang belum sepadat Kota Bogor, pengaturan kendaraan umum di Kota ini juga terlihat cukup baik. Para supir angkot pun tertib lalu lintas, mereka tidak akan berhenti di tempat-tempat yang ada rambu dilarang berhenti dan di tempat-tempat yang memang telah disepakati bukan sebagai tempat perhentiannya meskipun di sana ada calon penumpang yang akan menaiki angkot mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-4230748069199439611?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/4230748069199439611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/08/susah-cari-angkot-di-kota-apel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4230748069199439611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4230748069199439611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/08/susah-cari-angkot-di-kota-apel.html' title='Susah Cari Angkot di Kota Apel'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/Snbi2wM4RXI/AAAAAAAAAE4/fjSPAQxyvrY/s72-c/matos-mlg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-4237753099640119924</id><published>2009-06-26T11:46:00.002+07:00</published><updated>2009-09-23T12:49:44.745+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>Kontributor Penggundulan Hutan Teriakan "GO GREEN!!!"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SkRSwAQ1wUI/AAAAAAAAAEw/IX7YROVw1hs/s1600-h/paper-hires.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SkRSwAQ1wUI/AAAAAAAAAEw/IX7YROVw1hs/s200/paper-hires.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351493241880822082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini (26/6) belum genap satu minggu sejak saya melihat kios-kios yang menjual jasa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;photocopy&lt;/span&gt; di sepanjang Jl. Babakan Raya, Dramaga, Bogor, dikerubungi mahasiswa IPB. Saat itu mahasiswa akan menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) Genap. Seperti momen-momen ujian sebelumnya  mahasiswa menyiapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handout&lt;/span&gt; yang diberikan dosen sebagai bahan ujian.&lt;br /&gt;Lembar demi lembar kertas keluar dari mesin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;photocopy&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;slide&lt;/span&gt; demi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;slide&lt;/span&gt;, modul demi modul tertumpuk dan siap dibawa oleh mahasiswa layaknya amunisi senjata untuk persiapan berperang melawan soa-soal ujian. Hal tersebut sederhana dan sudah terlihat biasa. Namun, pernahkah anda membayangkan berapa banyak kertas yang terpakai untuk membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handout&lt;/span&gt; tersebut? Berapa banyakkah pohon yang ditebang untuk memenuhi demand kertas yang menjadi kebutuhan akademik itu?. Mari kita coba membuat sebuah hipotesis tentang penggunaan kertas pasca UAS mahasiswa IPB.&lt;br /&gt;Asumsi:&lt;br /&gt;1. Jumlah mahasiswa yang mengikuti UAS adalah 12.000 orang&lt;br /&gt;2. Rata-rata jumlah mata kuliah yang diambil mahasiswa adalah 7&lt;br /&gt;3. Rata-rata jumlah kertas per &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handout&lt;/span&gt; adalah 30 lembar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, secara matematis tinggal dikalikan saja, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Kertas Dibutuhkan = 12.000 x 7 x 30 = 2.520.000 lembar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau setara dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.520.000/500 = 5040 rim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai informasi, untuk memproduksi satu rim kertas diperlukan satu batang pohon berusia lima tahun. Jadi, dari hipoteis tersebut dapat dilihat untuk memenuhi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;demand&lt;/span&gt; kertas pasca ujian mahasiswa IPB dibutuhkan setidaknya 5040 batang pohon yang harus ditebang. Selain itu, dalam kegiatan produksi kertas ini tidak hanya hutan yang digunduli, namun terdapat hasil sampingan yang disebut limbah. Limbah yang dihasilkan dapat berupa padatan, cairan maupun gas yang secara kuantitatif besar dan mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Terlebih saat limbah dibuang tanpa pengolahan atau filtrasi terlebih dahulu. Hal tersebut akan meningkatkan eksternalitas negatif pada masyarakat yang terkena dampaknya.&lt;br /&gt;Nah, berdasarkan perhitungan matematis dasar tersebut kita dapat mengetahui ternyata sebagai mahasiswa –konon katanya calon intelektual masa depan dan bagian dari masyarakat peduli lingkungan– yang sering meneriakan slogan 'GO GREEN!!' kita juga memberikan kontribusi terhadap penggundulan hutan. Tidak ada kata terlambat untuk suatu perbaikan. Jadi, hematlah kertas mulai sekarang!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-4237753099640119924?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/4237753099640119924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/kontributor-penggundulan-hutan-teriakan_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4237753099640119924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4237753099640119924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/kontributor-penggundulan-hutan-teriakan_25.html' title='Kontributor Penggundulan Hutan Teriakan &quot;GO GREEN!!!&quot;'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SkRSwAQ1wUI/AAAAAAAAAEw/IX7YROVw1hs/s72-c/paper-hires.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-8581492495382563396</id><published>2009-06-26T10:19:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:52:04.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>Pendidikan Konservasi Sebagai Langkah Awal Menyelamatkan Bumi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SkQ_uFo5cmI/AAAAAAAAAEY/Lole1G0FLVk/s1600-h/Img00065.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SkQ_uFo5cmI/AAAAAAAAAEY/Lole1G0FLVk/s200/Img00065.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351472318243238498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal tahun 2000-an kita sering melihat banyak konferensi dan aksi lingkungan yang diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Konferensi lingkungan ini diadakan untuk berbagai kepentingan akan sumberdaya dan lingkungan nasional maupun internasional. Begitu pun dengan aksi peduli lingkungan yang marak dilakukan belakangan ini. Dalam aksi tersebut, hal yang pada umumnya dipublikasikan adalah permasalahan lingkungan yang memang sdah marak diperbincangkan masyarakat maupun media.&lt;br /&gt;Salah satu bentuk kecintaan terhadap lingkungan hidup dan bumi seperti yang disebutkan di atas pada dasarnya memang dibutuhkan untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat tentang permasalahan lingkungan global yang sedang dan akan mereka hadapi. Namun, alangkah lebih baik apabila terdapat suatu kegiatan yang lebih berkesinambungan guna menciptakan suatu solusi bagi bumi kita yang sudah semakin tua ini. Sehingga, perjuangan yang sebatas publikasi dan bersifat persuasif itu tidak menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;Perjuangan untuk menyelamatkan bumi yang sebenarnya adalah sebuah proses. Proses penyelamatan ini dapat berlangsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang, semua bergantung pada skala perubahan yang diharapkan. Proses ini sangat bergantung oleh berbagai faktor, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksternal&lt;br /&gt;1.Sosial : pola interaksi yang dilakukan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal.&lt;br /&gt;2.Ekonomi : tingkat pendapatan yang menunjukkan willingness to pay seseorang terhadap kesejahteraan lingkungan.&lt;br /&gt;3.Budaya : kebiasaan yang telah menjadi pola hidup sehari-hari&lt;br /&gt;4.Pendidikan : kuantitas dan kualitas ilmu pengetahuan tentang lingkungan yang telah diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal&lt;br /&gt;1.Idealisme dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mind set&lt;/span&gt; yang terbentuk sejak usia dini&lt;br /&gt;2.Seberapa besar keinginan untuk berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan keseimbangan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor tersebutlah yang sering menjadi kendala bagi seorang atau sekelompok aktivis lingkungan untuk mengajak masyarakat agar mau peduli dan melihat lebih dekat permasalahan lingkungan yang mereka hadapi, serta membaurkan pemikiran untuk mencari segudang solusi dan tidak hanya bergantung oleh gerak pemerintah saja. Salah satu jembatan untuk mengawali proses dan menjadi solusi bagi kendala tersebut adalah Pendidikan Konservasi.&lt;br /&gt;Dalam Pendidikan Konservasi kita tidak hanya mempelajari bagaimana cara menjaga dan memanfaatkan apa yang ada di alam secara sustainable, namun bagaimana peserta belajar dapat memahami kendala (sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dll) yang akan dihadapi ketika terjun langsung ke dalam masyarakat saat hendak mentransfer Pendidikan Konservasi yang lebih aplikatif. Pada Pendidikan Konservasi ini peserta belajar mempelajari pendekatan kepada masyarakat secara formal dan informal untuk mendukung terbentuknya jalinan komunikasi yang lebih efektif sesuai dengan target atau sasaran penyuluhan.&lt;br /&gt;Pada perjalanannya kegiatan ini sering kali menjadi pengalaman baru bagi peserta belajar, misalnya saat mengalami sebuah penolakkan dari sasaran untuk menerima penyuluhan. Selain itu, peserta belajar harus mau ditempatkan di mana saja dan berhadapan dengan lapisan masyarakat yang berbeda-beda, misalnya siswa-siswi SD hingga SMA, ibu-ibu PKK, pedagang kaki lima, pedagang asongan, anak jalanan, petani, supir angkot, dan sebagainya. Proses transfer ilmu saat penyuluhan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui pemutaran film tentang isu lingkungan yang sedang hangat, praktik pemanfaatan limbah rumah tangga maupun produksi, seni lukis dan gambar bagi balita dan anak usia sekolah dasar, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Pada umumnya masyarakat akan peduli saat penyuluh memberikan pemahaman tentang betapa bergantungnya manusia dengan alam ini, dan mengapa tidak memanfaatkan limbah yang ada di alam untuk sesuatu yang lebih profitable dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan pemahaman seperti itu penyuluh dapat mengubah mind set masyarakat yang sebelumnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;purely profit oriented&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sustainable profit based on sustainable resources&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-8581492495382563396?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/8581492495382563396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/pendidikan-konservasi-sebagai-langkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/8581492495382563396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/8581492495382563396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/pendidikan-konservasi-sebagai-langkah.html' title='Pendidikan Konservasi Sebagai Langkah Awal Menyelamatkan Bumi'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SkQ_uFo5cmI/AAAAAAAAAEY/Lole1G0FLVk/s72-c/Img00065.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-440371758027332069</id><published>2009-06-14T17:02:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:52:29.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Krisis Air Bersih Lingkar Kampus IPB Dramaga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SjTNYDRXsBI/AAAAAAAAAEQ/7T5qpHhigEc/s1600-h/02_GE_Darmaga_IPB_02_500_low.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SjTNYDRXsBI/AAAAAAAAAEQ/7T5qpHhigEc/s200/02_GE_Darmaga_IPB_02_500_low.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347124470674337810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Air merupakan salah satu sumberdaya yang menjadi kebutuhan pokok hidup manusia. Setiap orang membutuhkan air untuk dikonsumsi maupun untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari, misalnya minum, memasak, mandi, hingga skala penggunaan yang lebih besar seperti pertanian.&lt;br /&gt;Kecamatan Dramaga merupakan wilayah barat Kota Bogor yang ketersediaan air bersihnya belum terpenuhi secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya alokasi air oleh irigasi (pertanian).&lt;br /&gt;Sebagai kawasan pemukiman mahasiswa, Kecamatan Dramaga memiliki permintaan yang cukup tinggi untuk air bersih. Namun, penduduk yang tinggal pada kawasan ini sebagian besar sudah tidak dapat mengandalkan sumber air tanah sebagai pemasok air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini terjadi karena terdapat penurunan kualitas air di sekitar kampus IPB karena tercemar oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;septic tank&lt;/span&gt; yang jaraknya sangat dekat dengan sumber air. Padahal jarak minimum yang diperbolehkan antara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;septic tank &lt;/span&gt;dan sumber air seharusnya 20 Meter. Sedangkan, sebagian besar pemukiman mahasiswa di lingkar kampus IPB sangat dekat dan berhimpitan, sehingga peluang tercemarnya air dan mewabahnya penyakit (gatal-galat, hepatitis, typus, dll) semakin besar.&lt;br /&gt;Saat terjadi penurunan kualitas air tanah di lingkar kampus IPB, alternatif sumber air bersih berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Jika dalam pengadaan air bersih ini penduduk masih merasakan kualitas air yang kurang memuaskan, maka solusi yang sudah seharusnya dilakukan adalah melaporkannya langsung keluhan yang dirasakan kepada PDAM setempat. 'Sejauh ini Pemda dan PDAM Kabupaten Bogor telah memiliki program untuk pengadaan air bersih, namun masih menunggu kontribusi dari IPB sebagai institusi yang banyak terlibat dalam penggunaan maupun pengadaan air bersih.' Jelas Dr. Ir. Yusman Syaukat, M. Ec.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-440371758027332069?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/440371758027332069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/krisis-air-bersih-lingkar-kampus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/440371758027332069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/440371758027332069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/krisis-air-bersih-lingkar-kampus.html' title='Krisis Air Bersih Lingkar Kampus IPB Dramaga'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SjTNYDRXsBI/AAAAAAAAAEQ/7T5qpHhigEc/s72-c/02_GE_Darmaga_IPB_02_500_low.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-1884462855118543140</id><published>2009-06-14T16:58:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:53:00.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>BioS: Biopore on Situ Gede</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SjTMGJVw0XI/AAAAAAAAAEI/XzrFZuWUc9E/s1600-h/BIOPORI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SjTMGJVw0XI/AAAAAAAAAEI/XzrFZuWUc9E/s200/BIOPORI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347123063554101618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komponen penyusun ekosistem terdiri dari unsur biotik dan abiotik. Kedua unsur tersebut ada yang terlihat maupun yang tidak kasat mata. Terdapat organisme pengurai yang memiliki peran tidak kalah penting dengan komponen penyusun lainnya sebagai salah satu unsur biotik. Namun, pada umumnya manusia tidak berfokus pada hal tersebut. Masyarakat pada umumnya lebih memperhatikan apa yang ada dipermukaan hingga isu lingkungan yang bersifat makro.&lt;br /&gt;Pada hari Minggu, 07 Juni 2009 diadakan suatu rangkaian acara bertajuk “Biopore On Situ Gede” (BioS) yang merupakan hasil jalin kerjasama REESA dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT). Acara yang bertujuan memberikan pengetahuan seputar manfaat lubang resapan dan penghematan air ini dilaksanakan di tengah masyarakat RW 07 Desa Situ Gede. Masyarakat diberikan penyuluhan tentang biopori dan krisis air bersih yang melanda beberapa daerah di Indonesia. &lt;br /&gt;Usai mendapat penyuluhan, masyarakat langsung membuat lubang-lubang biopori di pekarangan rumah dan beberapa tempat yang telah disepakati. Pembuatan lubang dilakukan oleh kaum pria, sedangkan  kaum wanita hanya memberikan sampah-sampah organik yang nantinya dimasukkan ke dalam lubang tersebut.&lt;br /&gt;Dengan diadakannya acara ini diharapkan timbul suatu cara pandang baru bagi masyarakat tentang pentingnya penghematan air dan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu mengaplikasikan upaya-upaya konservasi air dan tanah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-1884462855118543140?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/1884462855118543140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/bios-biopore-on-situ-gede.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1884462855118543140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1884462855118543140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/bios-biopore-on-situ-gede.html' title='BioS: Biopore on Situ Gede'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SjTMGJVw0XI/AAAAAAAAAEI/XzrFZuWUc9E/s72-c/BIOPORI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-1305505481415660880</id><published>2009-06-14T16:49:00.000+07:00</published><updated>2009-06-14T17:07:16.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.S : 'Idealisme itu tidak penting, tapi perlu!'</title><content type='html'>Isu lingkungan semakin menjadi bola panas yang tak henti diperbincangkan semenjak kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt; kian disuarakan di berbagai tempat. Bahkan, masyarakat mulai menyadari permasalahan lingkungan tidak hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Global warming&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; hanya selaput maya yang menyelimuti bumi dan dapat dirasakan sebagai akibat berbagai aktivitas manusia yang tidak cukup bijaksana terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;Sulit untuk dipungkiri jika permasalahan lingkungan yang timbul erat kaitannya dengan proses perolehan dan pengelolaan sumber daya alam oleh manusia. Dalam hal ini paham antroposentrisme yang pada dasarnya ada pada setiap manusia melatarbelakangi setiap kerusakan lingkungan yang terjadi. Paham ini merupakan pola pikir di mana setiap manusia akan selalu memaksimisasi kepuasannya (terhadap lingkungan dan sumber daya) karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dilihat sebagai makhluk ekologis yang identitasnya ikut dibentuk oleh alam. Paham inilah yang menjadi cikal bakal kerakusan manusia terhadap alam.&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui pula bahwa paham antroposentisme memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Namun, hal tersebut juga harus diimbangi dengan dua paham lainnya yaitu biosentrisme dan ekosentrisme. Biosentrisme merupakan paham yang mempercayai bahwa semua makhluk hidup bernilai pada dirinya sendiri sehingga pantas mendapat pertimbangan dan kepedulian moral. Sedangkan ekosentrisme merupakan paham yang tidak jauh berbeda dengan paham biosentrisme, hanya saja paham ini lebih menyeluruh karena mencakup ekologi seutuhnya (biotik dan abiotik). &lt;br /&gt;'Idealisme itu perlu, tapi tidak penting.' tegas Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.S, kepala bagian ekonomi lingkungan Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB. Bagi Bu Eka (panggilan akrab beliau), sudah menjadi kodratnya manusia memiliki paham antroposentrisme, namun hal itu menjadi lebih baik jika dibarengi dengan sikap idealis yang mengacu pada paham biosentrisme dan ekosentrisme, sehingga dalam memaksimisasi kepuasaanya manusia tidak menjadi rakus karena menyadari suatu saat sumber daya yang disediakan alam akan mencapai produk maksimum (habis).&lt;br /&gt;Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen ini pun menjelaskan bahwa orang yang idealis itu tidak hanya berpikir bahwa sumber daya itu hanya memiliki nilai ekonomi. Misalnya, hutan. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi dari hasil hutan (kayu), hutan memiliki nilai lingkungan yang tinggi pula. Hutan merupakan penyangga kehidupan yang memiliki banyak fungsi. Jika degradasi lingkungan terhadap hutan terus terjadi, maka fungsi hutan yang seharusnya bertahan dan dibutuhkan dalam waktu yang panjang akan hilang dalam waktu yang lebih singkat.&lt;br /&gt;Bu Eka sangat menyayangkan pola pemahaman biosentrisme dan ekosentrisme belum dapat diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat yang telah mendapatkan pengetahuan dan pendidikan secara resmi. Sudah seharusnya kita mencontoh masyarakat adat seperti Suku Naga di Tasikmalaya dan Suku Badui di Banten yang merasa butuh dan memiliki ketergantungan dengan alam sehingga paham biosentrisme dan ekosentrisme tersebut begitu melekat, serta diimplementasikan dengan baik.&lt;br /&gt;Tidak dapat dielakkan jika kerusakan lingkungan terjadi sebagai salah satu akibat dari aktivitas ekonomi. Perekonomian memang sudah bergerak sejak berabad-abad lalu. Sedangkan, kesadaran masyarakat dunia tentang lingkungan baru diawali sekitar tahun 1990an, sejak diadakannya KTT Bumi di Rio de Janeiro pada 1992 di mana masyarakat dunia telah mengakui bahwa masalah lingkungan merupakan isu global dan tanggungjawab seluruh bangsa.&lt;br /&gt;Solusi terbaik untuk menanggapi masalah lingkungan ini ada pada individu masing-masing. Kesadaran lingkungan dapat dipupuk dengan mengubah mindset dan perilaku kita sebagai bagian dari kesatuan ekologi yang telah tercipta dan bagaimana kita bergantung pada alam ini. 'Tidak ada kata terlambat untuk suatu perbaikkan!' sahut Bu Eka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-1305505481415660880?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/1305505481415660880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/dr-ir-eka-intan-kumala-putri-ms.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1305505481415660880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1305505481415660880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/06/dr-ir-eka-intan-kumala-putri-ms.html' title='Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.S : &apos;Idealisme itu tidak penting, tapi perlu!&apos;'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-6689811858207221189</id><published>2009-05-21T12:00:00.003+07:00</published><updated>2009-09-23T12:54:22.811+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa Gila'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Dia'/><title type='text'>IMAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/ShTgXe8J-nI/AAAAAAAAADw/gQmhVqRKmQg/s1600-h/n683763964_1438058_2794825.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/ShTgXe8J-nI/AAAAAAAAADw/gQmhVqRKmQg/s200/n683763964_1438058_2794825.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338138152387869298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dulu, hari demi hari aku lalui bersama seorang anak laki-laki yang aku jumpai saat aku belum bisa memaknai hidup dan cinta. Menjalani suka dan duka bersama selama proses pendewasaan menanjak dengan segala upayanya. Entah apa yang aku pikirkan saat itu sehingga aku luar biasa mempercayainya. Padahal, saat itu aku hanya seorang bocah yang belum merancang sistem berpikir untuk mengarahkan kehidupan.&lt;br /&gt;Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Enam bulan. Aku mulai merasakan kasih sayang. Bergandeng tangan sepanjang jalan dan berangkulan kala hujan. Masa yang indah untuk dikenang, meski memalukan untuk diceritakan. Ia meyakinkanku dengan kata-kata cinta. Sangat Menggelikan.&lt;br /&gt;Satu tahun. Dua tahun. Tiga tahun. Ia meyakinkanku dengan sentuhan. Aku masih tetap pada pendirianku untuk mempercayainya.  Ia beranjak dewasa. Seorang remaja aktif dan bersahaja. Ia pun belum jauh berbeda dengan segala rendah hatinya. &lt;br /&gt;Empat tahun, saat-saat luar biasa di mana aku harus menyiapkan diri untuk tidak bergantung padanya. Meski aku tahu aku tak akan bisa. Dan ia meyakinkanku dengan keikhlasannya.&lt;br /&gt;Lima tahun, 180 KM panjang jalan yang harus aku lalui untuk hanya sekedar melihat dan  mengagumi ketabahannya. Masa ini aku melihat sebuah pendewasaan. Luar biasa, Ia meyakinkanku dengan keteguhannya.&lt;br /&gt;Enam tahun, masa yang sulit diungkapkan. Bahkan saat kalimat-kalimat ini mengalir dengan sendirinya. Andai pun terucap, mungkin ini hanya jadi bagian dari rentetan kata tak syarat makna untuk ia baca. Kini, aku beranjak 20 tahun. Bukan anak-anak. Namun, belum cukup dewasa pula untuk memaknai arti cinta. Tapi aku cukup mengerti dan dapat meresapi rasa takut kehilangan. Takut kehilangan cinta, karena cinta akan melalui metamorfosanya dan hanya menjadi sebuah komitmen, serta rasionalitas belaka.&lt;br /&gt;Tujuh tahun, belum aku lewati. Rasionalitas ini semakin menjadi-jadi. Komitmen dituntut untuk terus mendaki. Biarlah percaya tetap pada konstanitasnya. Dan biarkan cinta tetap menempati ruangnya. Biarkan semua membangun integritasnya. Mana kala realitas menuntut segalanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-6689811858207221189?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/6689811858207221189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/05/iman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/6689811858207221189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/6689811858207221189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/05/iman.html' title='IMAN'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/ShTgXe8J-nI/AAAAAAAAADw/gQmhVqRKmQg/s72-c/n683763964_1438058_2794825.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-1407122965645130152</id><published>2009-05-21T11:58:00.000+07:00</published><updated>2009-06-14T17:21:23.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa Gila'/><title type='text'>Dunia Si Nista</title><content type='html'>Ada kala aku merasa selalu ingin dimengerti&lt;br /&gt;Ada kala aku merasa ingin mengerti&lt;br /&gt;Tapi tidak dengan apa yang ada padanya&lt;br /&gt;Aku tidak mau mengerti tentang apa yang selalu ia gemakan pada setiap telinga&lt;br /&gt;Aku tidak mau tahu rasa apa yang ia gaungkan pada tiap bola mata&lt;br /&gt;Aku coba biarkan ia menganga pada tiap telinga&lt;br /&gt;Aku coba acuhkan ia menggeliat pada tiap bola mata&lt;br /&gt;Bola mata berputar-putar melihat gayanya&lt;br /&gt;Telinga bergeming-geming menangkap ocehannya&lt;br /&gt;'Hai dunia, akulah yang paling berkarya!!!'&lt;br /&gt;'Hai dunia, akulah yang paling bahagia!!!'&lt;br /&gt;'Hai dunia, akulah yang paling dewasa!!!'&lt;br /&gt;'Hai dunia, kekasihku yang paling kaya!!!'&lt;br /&gt;'Hai dunia, Hai dunia, Hai dunia!!!'&lt;br /&gt;Dan aku pun teriakan &lt;br /&gt;'Hai dunia, Dialah yang paling nista!'&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-1407122965645130152?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/1407122965645130152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/05/dunia-si-nista.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1407122965645130152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/1407122965645130152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/05/dunia-si-nista.html' title='Dunia Si Nista'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-7929425972912559033</id><published>2009-05-21T11:41:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:54:54.019+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI'/><title type='text'>Pandangan Saya Sebagai Redaktur Artistik Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/ShTe5i9AI6I/AAAAAAAAADo/G4APjjGoMyg/s1600-h/DSC_0951.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/ShTe5i9AI6I/AAAAAAAAADo/G4APjjGoMyg/s200/DSC_0951.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338136538557457314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Koran Kampus merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa IPB yang berdiri sejak 18 Februari 2004. Koran Kampus (Korpus) memiliki visi menjadi media informasi yang handal dan terpercaya di lingkungan IPB berazaskan kreatifitas dan independensi, serta menjadi wadah kegiatan yang konstruktif dalam bidang jurnalistik. &lt;br /&gt;Ada pun misi yang dilakukan Korpus demi pencapaian visi tersebut, diantaranya: Mengembangkan kemampuan jurnalistik mahasiswa IPB; Mengembangkan minat dan bakat mahasiswa IPB di bidang jurnalistik terutama media cetak Koran; Meningkatkan prestasi jurnalistik mahasiswa IPB, serta Meningkatkan kepedulian civitas akademika IPB terhadap informasi atau isu sekitar kampus.&lt;br /&gt;Berdasarkan visi yang berazaskan kreatifitas tersebutlah Korpus berkomitmen untuk membentuk sebuah subdivisi Artistik yang memiliki spesifikasi pada bidang kreatifitas tersebut. Subdivisi ini dipimpin oleh seorang Redaktur Artistik di bawah tanggungjawab Redaktur Pelaksana II. Subdivisi Artistik terdiri atas tiga kelompok profesi yakni fotografer, kartunis dan lay outer. &lt;br /&gt;Fotografer bertugas memberikan reportase dalam bentuk foto. Sedangkan Kartunis bertugas membuat karikatur yang berisi kritikan terhadap kebijakan kampus maupun isu yang sedang hangat diperpincangkan oleh masyarakat kampus. Dalam pengembangan keterampilan dua kelompok profesi ini, Redaktur Artistik bertanggungjawab dalam pengadaan pelatihan dan pemberian materi secara in door maupun praktiknya secara out door.&lt;br /&gt;Pada umumnya pemberian materi secara in door  diberikan dalam bentuk materi teoritis mengenai teknis pembuatan karya berdasarkan profesi masing-masing. Sedangkan praktik out door merupakan implementasi di luar penugasan untuk memenuhi deadline. Keduanya tidak dapat berdiri sendiri karena saling berkaitan.&lt;br /&gt;Pada praktik out door fotografer dapat mempraktikan teori fotografi yang telah didapatkan melalui pelatihan in door dengan mengambil gambar-gambar yang terdapat di alam maupun gambar-gambar insidental guna meningkatkan keterampilannya. Begitu pula dengan kartunis. Kartunis yang telah mendapatkan teori teknis dalam menggambar dapat mengambil inspirasi dari alam maupun masyarakat yang pada akhirnya menjadi suatu cerita pada goresan tintanya di atas kertas.&lt;br /&gt;Berbeda dengan dua profesi sebelumnya, lay outer bekerja setelah deadline terpenuhi. Pada tahap inilah proses penyusunan seluruh perangkat koran dilakukan. Lay outer Korpus menyelesaikan tugasnya dalam waktu 18 hingga 24 jam. Pada umumnya lay outer sudah dibekali keterampilan desain sebelum terdaftar sebagai anggota Korpus dan mengikuti rangkaian tes dari redakturnya. Hal tersebutlah yang menjadi dasar (selain jiwa eksploritas yang tinggi terhadap keterampilan pada bidangnya) mengapa jarang sekali pelatihan yang dilaksanakan untuk kelompok profesi ini.&lt;br /&gt;Di samping itu semua terdapat beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan pada subbdivisi ini, diantaranya kreatif, inisiatif, inovatif, kebebasan berpendapat, serta keleluasaan berekspresi dan berkreasi. Semua prinsip dasar yang disebutkan di atas merupakan apresisasi ketidakterbatasan jiwa seni yang terdapat pada diri manusia. Namun, pada penerapannya (meski dapat membuat sebuah gebrakan dalam dunia desain kampus) prinsip tersebut harus disesuaikan dengan kaidah dan budaya kampus yang telah mengakar sebelumnya.&lt;br /&gt;Prinsip ini tidak dijabarkan secara teoritis oleh Redaktur Artistik yang menjabat saat itu. Prinsip ini dapat diimplementasikan langsung dengan social gathering yang dilakukan setidaknya dua kali dalam satu bulan, misalnya makan bersama, memainkan permainan yang dapat mengasah dan merelaksasikan pikiran, memberikan informasi lomba, wisata, dan lain sebagainya. Dengan adanya implementasi tersebut dapat dipastikan terbentuknya suatu integritas kelompok yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja dan kerjasama tim.&lt;br /&gt;Dilihat dari peranan seluruh kelompok profesi yang ada pada subdivisi ini muncullah sebuah harapan untuk mengubah paradigma mahasiswa IPB bahwa suatu proses dalam aktivitas jurnalistik hanya melibatkan para penulis saja (yang terpenting dan dibutuhkan hanya penulis) menjadi sebuah paradigma baru yang melibatkan suatu integritas organisasi pers kampus seutuhnya (sentuhan artistic di dalamnya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-7929425972912559033?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/7929425972912559033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/05/pandangan-saya-sebagai-redaktur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/7929425972912559033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/7929425972912559033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/05/pandangan-saya-sebagai-redaktur.html' title='Pandangan Saya Sebagai Redaktur Artistik Pertama'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/ShTe5i9AI6I/AAAAAAAAADo/G4APjjGoMyg/s72-c/DSC_0951.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-6397869170657268898</id><published>2009-02-13T17:22:00.003+07:00</published><updated>2009-02-13T17:23:44.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Susahnya Jadi Wartawan</title><content type='html'>Dahsyat!!!. Begitulah jargon FEM IPB. Kata “DAHSYAT” itu adalah kata yang terhela oleh saya setelah menjalani hari sebagai wartawan kampus di hari Jumat, 24 Oktober 2008. Tak terbayangkan sebelumnya apa yang saya alami hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama seminggu terakhir, saya lebih banyak menghabiskan waktu di stand OR Koran Kampus. Begitu lelah dan membosankan rasanya ketika hanya berdiam diri di sana. Melayani calon peserta OR dan membaca beberapa halaman buku. Saya begitu beruntung karena masih ditemani oleh beberapa sahabat saya dan kru Koran Kampus lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari itu saya, Agus, dan Monica mendapatkan tugas meliput acara Kick Andy Off air di gedung GWW. Tugas peliputan itu seharusnya tidak jatuh kepada saya, tetapi Faris. Namun, saat itu ia harus mengikuti rapat juri LKBB yang tidak dapat ia tinggali. Faris pun meminjamkan kamera DSLR Nikon D-40nya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sempat terhalang sedikit oleh responsi mata kuliah Teori Mikroekonomi, saya dan monica beranjak ke gedung itu setelah menerima pesan singkat dari Agus yang melaporkan bahwa ia telah berhasil mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara dengan Andrea Hirata, sang penulis buku Laskar Pelangi yang fenomenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami sampai di pintu VIP room GWW, Menteri Komunikasi dan Informasi BEM KM IPB, Irvan, berkata “Maaf, hanya ada satu orang yang boleh masuk dari Koran Kampus, sesuai permintaan dari manajemen Andrea Hirata.”&lt;br /&gt;Spontan saya melepaskan kamera yang tergantung di leher saya dan memberikannya kepada Agus dan Monica. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang menerima dengan alasan tidak bisa menggunakan SLR tanpa film seluloid itu. Monica langsung mengeluarkan catatan kecil berisi beberapa pertanyaan dari tasnya. “Lo aja yang berangkat!.” kata Monic. “Goodluck!!!.” sahut Agus. Saat itu saya benar-benar dibuat shock oleh mereka. Saya pun masuk ke VIP room itu dengan penuh kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dipasangkan oleh seorang reporter dari pers Kominfo BEM KM IPB, Vina. Ia adalah mahasiswi tingkat empat di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Ia menjabat sebagai sekretaris menteri Kominfo BEM KM IPB. Kami merasakan kejenuhan yang luar biasa saat berada di VIP room tersebut. Untuk menghilangkan kejenuhan itu saya mencoba masuk ke ruang utama GWW, di mana acara itu Kick Andy diselenggarakan, dan mengambil beberapa gambar dalam rangkaian acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa saya sadari, saya terlalu asyik dengan kamera milik Faris itu. Irvan pun memanggil saya untuk standby di dalam mobil Andrea Hirata. Namun, naluri fotografer yang selalu tidak ingin melepaskan suatu moment begitu saja, membuat saya membandel dan tetap di ruangan utama GWW itu. Andrea pun meninggalkan ruangan, ketika saya masih terlena oleh kamera dan keramaian orang-orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesalahan saya, saya dan Vina dimarahi oleh salah seorang dari kru Metro TV yang sudah menyusun strategi agar kami dapat melakukan “Exclusive Interview” dengan Andrea Hirata. Kami pun diminta menyusul mobil Kijang capsule silver yang ditumpangi Andrea. Kami menyusulnya dengan ojeg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang menegangkan itu tak sengaja rusak oleh pikiran saya. “Di mana tas gue? dompet gue? ” begitulah isi otak saya saat itu. Hanya ada kamera milik Faris, Pers Card, dan jam tangan Swiss Army di lengan kiri saya. Kekhawatiran sudah meresap ke seluruh otak saya. Untung saja ada Vina, sang dewi penolong yang satu-satunya saya miliki selain ketiga benda tersebut. Ia yang menanggung semua biaya yang saya keluarkan pada hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Kijang silver itu pun menepi. Manajer Andrea membukakan pintu untuk kami. Kami pun duduk di kursi tengah mobil itu. “Ada tempat ngopi atau ngeteh yang enak nggak di sekitar sini?” sambut Andrea. Pria belitong yang duduk tenang di kursi depan itu benar-benar membelalakan mata kami di saat kami masih kesulitan mengatur nafas kami yang terengah karena berlari.&lt;br /&gt;“Ada! di belakang terminal angkot Laladon” sahut saya. Kami langsung menuju ke tempat itu sambil memulai wawancara yang kami nantikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di tempat itu, kami duduk di sofa dan melanjutkan wawancara itu. Di sela-sela wawancara kami ada statement Andrea yang begitu menampar saya. “Writing is not about substain, but style!.” Mungkin bagi orang lain kalimat itu biasa saja, tapi bagi mantan calon penulis yang telah mengikrarkan diri untuk tidak menulis lagi dan tidak percaya diri dengan tulisannya seperti saya, kalimat itu merupakan pukulan besar. Saya sempat dibuat tercengang olehnya. Tak terasa 39 menit berlalu. Kami pun mengakhiri perbincangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya begitu mendapatkan imbas yang luar biasa dari kalimat-kalimat yang ia utarakan selama wawancara. Semuanya membuat saya merasa harus bangkit dan mau mencoretkan kembali tinta-tinta di kertas putih saya. Semangat yang luar biasa telah tercipta di hari itu bukan hanya karena Andrea Hirata, tapi karena kesempatan yang diberikan Allah SWT., Vina dan BEM KMnya, serta sahabat-sahabat saya (Monica, Faris, Agus, dan semua kru Koran Kampus IPB).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-6397869170657268898?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/6397869170657268898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/susahnya-jadi-wartawan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/6397869170657268898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/6397869170657268898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/susahnya-jadi-wartawan.html' title='Susahnya Jadi Wartawan'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-6801045050676000087</id><published>2009-02-11T16:27:00.000+07:00</published><updated>2009-02-11T18:00:11.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Dia'/><title type='text'>Dia Opung</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKoyD3deQI/AAAAAAAAACY/AZeWZ5Zrfo4/s1600-h/aPaaN+niH.,(2443).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKoyD3deQI/AAAAAAAAACY/AZeWZ5Zrfo4/s200/aPaaN+niH.,(2443).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301485289353345282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Opung merupakan panggilan untuk kakek atau nenek bagi Suku Batak. Tapi, tidak untuk isi tulisan ini. Opung adalah panggilan bagi salah satu sahabat terbaikku, namanya Taufik Abdillah. Ia adalah mahasiswa program studi Ilmu dan Teknologi Kelautan di kampusku. Ia seusia denganku. Hanya saja Ia lahir beberapa bulan sebelum hari kelahiranku.&lt;br /&gt;Pertama kali aku bertemu dengannya saat aku memasuki kelas paralel Tingkat Persiapan Bersama (TPB) di kampusku. Kami belajar di kelas kecil yang sama, B03. Kelas ini yang telah mempertemukanku dengan sosok 'Teraneh Tapi Nyata' dan 'Terindah Untuk Dikenang' versi kelasku ini.&lt;br /&gt;Awal mula aku melihatnya ia tampak biasa saja. Ia bukan sosok yang menonjol saat pandangan pertama. Tapi setelah kami berfoto keluarga (dengan beberapa teman dan sahabat di kelasku) terlihatlah karakter aslinya. Ternyata remaja berkepala botak itu lucu bukan main. Kadang ia terlihat seperti anak kecil dengan cara ia berbicara, kadang ia juga terlihat seperti kakek-kakek, itulah mengapa ia dipanggil Opung. Mungkin beberapa orang melihatnya sebagai sosok yang aneh luar biasa. Meskipun begitu, aku memandangnya sebagai pribadi yang sangat bersahabat. Dan itu terbukti.&lt;br /&gt;Opung bersama Ojak dan Abi (Fajri) -dua sahabatku yang lain- adalah orang-orang yang pertama kali memberiku nama Nabe. Mereka juga yang menamai sahabatku Dina Setriana menjadi Nase. Dan kini, aku dikenal dengan nama itu di kampus.&lt;br /&gt;Hari demi hari kami lalui bersama. Aku, Nase, Abi, Ojak dan opung bersama teman-teman kami lainnya menjalani kehidupan transisi siswa SMA-mahasiswa bersama dibawah bendera besar bernama "persahabatan". Gank kami diberi nama OFsite (Opung's Family Site). Untuk beberapa hal opung merupakan aset bersama. Karena ia bisa menjadi jimat daftar hadir setiap harinya. Ia hafal setiap paraf dan tanda tangan kami. Terlebih ketika aku membeli kipas yang pada akhirnya berisikan tanda tangan sahabat-sahabatku. Saat ia lupa, ia selalu memintanya. "Malas kuliah? sms opung aja" kurang lebih begitu. Itulah kisah opung dan kipas sakti. Itu baru satu bukti dari penghargaan 'Terindah Untuk Dikenang'.&lt;br /&gt;Opung punya banyak kebiasaan yang sulit dilupakan olehku dan teman-teman. Salah satunya adalah jarang mandi pagi. "Air di asrama habis eennnaaaa!" begitu biasanya ia menjawab. Ia biasa menggunakan pakaian kumel dan lusuhnya ke dalam kelas. Wajar jika ia sering mendapat teguran dari dosen. Sejak awal semester dua rambutnya kribo. Bahkan lebih mengerikan dari rambut Giring Nidji atau Eddy Brokoli. Opung merupakan anggota Fisheris Diving Club (FDC) di fakultasnya. Karena sering terkena kaporit, rambutnya kaku, agak lengket dan kemerah-merahan. Sungguh tidak enak disentuh. Tapi rambutnya itu sangat matching dengan penampilan dan wajahnya. Bagaimana pun itulah ciri khasnya.&lt;br /&gt;Ia begitu mempertahankan penampilannya. Penampilannya itu sama sekali tidak merugikan aku dan teman-teman. Apalagi saat kami hendak membuat video klip yang bertemakan orang gila dan berjudul "Crazy in The Jungle" ia tampak begitu menikmati perannya sebagai tokoh utama cerita itu. Dengan make up yang memadai ia pun tampak seperti orang gila. Bahkan, saat kami syuting pun banyak sekali orang yang lalu lalang mengira ia adalah orang gila sungguhan. Di video klip itu ia bertugas berlari-lari, memanjat pohon, mengganggu orang lain, dan kegiatan lainnya yang menunjukan bahwa ia adalah orang gila. Hasilnya memuaskan, ia berbakat. Kru kami pun sukses menghibur penonton yang terdiri dari teman-teman kami sendiri.&lt;br /&gt;Ada lagi. Suatu saat kami ada responsi Bahasa Indonesia. Kebetulan dosen yang mengajar kami (Ibu Devina) sangat tegas. Ia sangat terganggu dengan penampilan Opung. Sejak itu, setiap hari yang sama kami selalu melihat penampilan yang begitu 'luar biasa' dari Opung. Ia menggunakan jel rambut hingga rambutnya lepek dan rata. Ia terlihat begitu kelimis. Saat pertama kali, hal itu spontan mengundang tawa teman-teman sekelas. Bayangkan saja, penampilan yang biasnya terlihat lusuh kini tampak seperti penyanyi tahun tujuhpuluhan. What an amazing person!.&lt;br /&gt;Terlalu banyak yang bisa dikisahkan darinya. Opung salah satu teman teraneh yang aku punya (terlihat dari fotonya bukan?). Opung juga salah satu sahabat terbaik yang pernah aku punya. Tak pernah kujumpai orang seperti dia sebelumnya. Aku yakin, selain aku banyak orang yang begitu menyayanginya. He's unforgotable.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-6801045050676000087?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/6801045050676000087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/dia-opung.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/6801045050676000087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/6801045050676000087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/dia-opung.html' title='Dia Opung'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKoyD3deQI/AAAAAAAAACY/AZeWZ5Zrfo4/s72-c/aPaaN+niH.,(2443).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-4496509207365055850</id><published>2009-02-11T13:21:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:55:59.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa Gila'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Hati Membuatku Bodoh</title><content type='html'>Kadang aku merasa begitu bodoh. Kadang aku merasa takut. Kadang aku merasa kehilangan sesuatu yang pernah aku punya. Sesuatu yang hebat. Sesuatu yang telah lama menjadi energi bagi kehidupanku. Sesuatu yang sebetulnya aku tak tahu diciptakan untuk apa? Dan untuk siapa?.&lt;br /&gt;Sesuatu yang terlalu hebat. Terlalu hebat hingga terkadang aku merasa sakit luar biasa. Entah sakit itu ada di mana. Hati? Bahkan hingga aku menulis kata-kata hingga kalimat-kalimat ini pun aku belum tahu definisinya. Mungkin bodoh memang tepat.&lt;br /&gt;Hati ini sakit. Tidak, aku baik-baik saja. Kalau pun aku dibawa ke rumah sakit detik ini juga dokter akan berdiam diri kebingungan melihatku yang segar bugar. Hatiku masih berfungsi dengan baik. Ia masih merombak sel-sel darahku. Ia masih memiliki empedu yang menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuhku.&lt;br /&gt;Jadi, apa definisi hati itu?&lt;br /&gt;Perasaan? Ya, itu bisa aku rasakan. Tapi di mana letak hati yang satu ini? Kata orang di dalam dada. Aku tidak melihatnya. Di dalam buku biologi yang aku pelajari sejak SMP, aku tidak melihat hati di wilayah itu. Organ yang kulihat hanya jantung dan paru-paru beserta saluran pernafasan lainnya.&lt;br /&gt;Jadi, di mana letak hati?&lt;br /&gt;Otak? Kembali kuingat isi kepala manusia yang aku pelajari sejak aku SMP. Otak kanan? Otak kiri? Otak kecil? Tidak kutemukan hati di sana. Otak hanya sekumpulan neuron yang berfungsi untuk menyimpan memori, bukan rasa. Dipenuhi cairan yang entah apa namanya —aku bukan mahasiswi program studi sains atau kedokteran—. Tetapi bukankah itu bukan alasan untuk tidak tahu. Sudah kubilang aku bodoh.&lt;br /&gt;Kembali ke otak. Mungkin karena sulit mencari si hati. Pria menyimpan perasaannya di otak. Sehingga mereka kesulitan membedakan rasa dan logika. Tapi, mengapa wanita berjuang mencari hati hanya untuk sekedar menyimpan rasa, menangis, bahagia, dan mengambil impuls untuk tertawa. Sejauh ini aku masih heran dan bertanya-tanya. Sekali lagi aku bilang aku bodoh.&lt;br /&gt;Jadi, di mana hati?&lt;br /&gt;Meskipun aku tahu aku bodoh, paling tidak sekarang aku tahu hati yang kumaksud tidak ada di tubuh manusia. Tapi di mana?.&lt;br /&gt;Omong-omong apa definisi takut? Apa definisi kehilangan? Apa definisi semua yang sudah aku rasakan? Apakah itu impuls? Sepertinya tidak. Aku tidak memerlukan syaraf untuk merasakannya. Lalu, mengapa aku bisa bilang “sakit”?. Banyak sekali pertanyaanku. Lagi-lagi aku memunculkan si bodoh.&lt;br /&gt;Sudahlah aku menyerah saja. Percuma. Semua pertanyaan (bodoh) yang terlalu cerdas itu hanya bisa dijawab oleh hati. Hati yang hingga kini belum kuketahui keberadaannya. Hati yang entah di mana. Hati yang tak jelas kisahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-4496509207365055850?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/4496509207365055850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/hati-membuatku-bodoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4496509207365055850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/4496509207365055850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/hati-membuatku-bodoh.html' title='Hati Membuatku Bodoh'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-5849145553586001677</id><published>2009-02-11T13:18:00.000+07:00</published><updated>2009-02-11T15:45:41.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Dari Andrea</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKQLOnMGzI/AAAAAAAAABA/xHTLg3OrSMo/s1600-h/Copy+of+DSC_1209.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKQLOnMGzI/AAAAAAAAABA/xHTLg3OrSMo/s200/Copy+of+DSC_1209.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301458233943923506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, yang naik ke atas panggung ruang utama gedung Graha Widya Wisuda (GWW) dengan kaos merah dan topi berwarna hitam itu begitu memukau penonton yang hadir pada acara KICK ANDY offair pada hari Jumat, 24 Oktober 2008. Hingar bingar dan suara tepukan tangan ribuan penonton pun meramaikan gedung beratap biru itu. Usai acara yang selalu mengangkat cerita cinta terhadap humanisme tersebut, saya mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan pria yang hobi bermain komidi putar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuka obrolan kami, terlintas pertanyaan tentang makna cinta bagi Andrea, Ia pun langsung menjawab “If you love someone, you set him/her play.” Bagi Andrea, cinta harus benar-benar tulus dari hati dan diri sendiri, bukan karena secara sosial kita harus mencinta. “Sangat disayangkan saat ini cinta sudah mengalami perubahan pandangan sosial, cinta jadi lebih fleksibel dan cenderung menjadi trend.” Lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, Andrea tidak memiliki niat sedikit pun untuk menerbitkan karya pertamanya itu. Seorang sahabatnya mengambil dan mengirimkan Laskar Pelangi ke penerbit. “Saya ini bukan penulis, saya terjerumus!” kata Andrea. Tetralogi Laskar Pelangi merupakan kisah tentang kehidupannya dan orang-orang yang Ia cintai. Namun, Andrea pun mengakui bahwa tetralogi Laskar Pelangi bukanlah otobiografi maupun historical biography dari kisah kehidupanya secara utuh. Walaupun buku yang ia buat itu merupakan buku terlaris sepanjang sejarah buku di Indonesia, pria yang berkeinginan tinggal di Kya Gempa (desa tertinggi di pegunungan Himalaya) ini tidak merasa bahwa karya edukatif yang dibuatnya telah meningkatkan minat baca di Indonesia. “Pembaca novel pada umumnya bukanlah pembaca baru.” Sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea yang sedang berkonsentrasi pada proyek pribadinya, Laskar Pelangi in Action, pembangunan sekolah di Belitong, ini memutuskan untuk berhenti menulis setelah buku Mariamah Karpovnya terbit. “Saya merasa tidak memiliki bakat untuk menjadi orang TOP, Saya risih. Saya tidak siap menjadi sorotan.” Kata Andrea. “Setelah Mariamah Karpov terbit dan tahun 2009, saya akan berhenti menulis, atau jika saya memang ingin menulis kembali, saya akan menggunakan nama lain.” Jelasnya. Meskipun terdengar agak mengecewakan, Namun, Andrea yakin, bahwa jika publik melihat dari sisi karyanya, seharusnya kekecewaan itu tidak muncul secara reaktif begitu saja. Justru Andrea begitu menantikan munculnya penulis-penulis baru untuk mengikuti jalannya. “Ditunggu!” tantangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir perbincangan kami, Andrea sedikit membahas tentang generasi muda (terutama mahasiswa). Menurut pandangannya, generasi muda bagaikan program Microsoft Excell, “Dari luar hanya terlihat tabel saja, tetapi sebetulnya jauh di dalamnya terdapat banyak fungsi, oleh karena itu, jangan pernah berhenti belajar.” katanya. Namun, ada yang disayangkan olehnya saat mahasiswa cenderung tidak menunjukan keintelektualannya saat pemikirannya hanya dihabiskan untuk mengritik pemerintah saja. “Seharusnya mahasiswa lebih berinisiatif, dan lebih banyak interospeksi diri tentang apa yang sudah mereka berikan untuk negara, karena mengatur suatu sistem pemerintahan itu tidak mudah”  jelasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-5849145553586001677?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/5849145553586001677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/dari-andrea.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/5849145553586001677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/5849145553586001677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/dari-andrea.html' title='Dari Andrea'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKQLOnMGzI/AAAAAAAAABA/xHTLg3OrSMo/s72-c/Copy+of+DSC_1209.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-3637251053102004225</id><published>2009-02-11T13:11:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:56:58.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa Gila'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Dia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imagination'/><title type='text'>Dari Balik Tirai Bambu</title><content type='html'>Masih sama seperti hari-hari yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia masih sama. Tidak berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama seperti minggu-minggu yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia tidak sama. Ia berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama seperti bulan-bulan yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia sama sekali tidak sama. Ia sungguh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama seperti tahun-tahun yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Tidak. Aku salah. Itu bukan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama seperti pagi yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Ia tidak sendiri. Ada wanita di sisinya. Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama seperti sore yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Ia tidak sendiri. Ada lelaki lain di sisinya. Ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama seperti kemarin. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Ia melihatku. Ia tersenyum. Aku senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kemarin. Aku tidak melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Aku berjalan di atas jembatan bambu. Penuh harapan melihat lelaki itu. Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu, lelaki itu sudah dihadapanku. Lagi, Ia tersenyum. Aku senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya kemarin. Aku tidak melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Aku berjalan di atas jembatan bambu.  Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu, lelaki itu sudah dihadapanku. Ia merogoh sakunya dalam-dalam. Ada jarum. Aku mengulum. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berbeda dengan kemarin. Aku tidak melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Aku berjalan di atas jembatan bambu.  Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu, lelaki itu sudah dihadapanku. Ia memegang silet. Aku tersayat. Sayatan panjang. Suaraku hilang. Ia berlari. Mengumpat di ketiak ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti kemarin. Aku tidak melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Aku berjalan di atas jembatan bambu.  Belum aku menyentuh ujung jembatan bambu, lelaki itu sudah dihadapanku. Ia menggenggam pisau. Aku galau. Tertusuk dalam. Suaraku parau. Ia berlari. Sembunyi di bahu ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sangat berbeda. Tidak sama seperti hari-hari yang lalu. Tidak sama seperti minggu-minggu yang lalu. Tidak sama seperti bulan-bulan yang lalu. Tidak sama seperti tahun-tahun yang lalu. Aku mati. Ia menangis. Menangisi aku yang selalu meringis. Menangis dan menangis. Mengingat ia sadis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-3637251053102004225?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/3637251053102004225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/dari-balik-tirai-bambu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/3637251053102004225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/3637251053102004225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/dari-balik-tirai-bambu.html' title='Dari Balik Tirai Bambu'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6517759351564511689.post-781976316079614579</id><published>2009-02-11T13:07:00.001+07:00</published><updated>2009-09-23T12:57:30.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa Gila'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Dia'/><title type='text'>Si Perempuan Gila</title><content type='html'>Na’as nasib si perempuan gila. Nasib membawa ia ke lubang prahara. Tak lagi mereka percaya pada si perempuan gila. Kadang, cemooh terlontar untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang nasib si perempuan gila. Salah siapa suka mengada-ngada? Terlalu besar harap. Terlalu luas imajinasi. Membuat hati terlilit duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial nasib si perempuan gila. Ia hanya menjilat muka. Di belakang Ia meronta-ronta. Melipat lidah pusing kepala. Karena itu aku memanggil Ia si perempuan gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi. Berharap dekat dengan siapa. Berimajinasi memiliki siapa. Siapa saja laki-laki apalagi pria. Pria-pria membuat Ia gila. Karena itu aku memanggil Ia si perempuan gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan gila. Perempuan gila. Suruh siapa khianati semua?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6517759351564511689-781976316079614579?l=dinaberina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dinaberina.blogspot.com/feeds/781976316079614579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/si-perempuan-gila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/781976316079614579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6517759351564511689/posts/default/781976316079614579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dinaberina.blogspot.com/2009/02/si-perempuan-gila.html' title='Si Perempuan Gila'/><author><name>Dina Berina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12690535015432368799</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zjUMw3Ryvos/SZKDxTlPWRI/AAAAAAAAAAY/F3R-CL1V_No/S220/Copy+of+DSC_0023+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
